Lelaki yang Tidak diketahui Identitasnya

 

Mereka sangat terlelap di malam-malam panjangnya…

Sebab terbuai oleh siang yang penuh dengan kefanaan dunia…

Sedang ia, menghidupkan malam-malamnya…

Bermunajat… Mendekat… Tanpa ada hasrat mendapat sanjung dari yang melihat…

Ia yang menggelar sajadahnya... Bercumbu dengan malam… Dengan udara pun heningnya…

Sejenak melupakan perkara-perkara dengan rakaat dalam sujud panjangnya, hingga derai resah meredup dan yang tersisa hanyalah harap kepada yang Maha Kuasa….

Sebuah kisah dari seorang lelaki yang tidak diketahui identitasnya, oleh ulama sejarah pun oleh penduduk di seluruh dunia… Yang diketahui tentangnya hanyalah tukang sepatu yang gelap kulitnya…

Kisah ini berawal dari kota Madinah tercinta yang sedang ditimpa kemarau yang sangat panjang… Hingga seluruh penduduk di Madinah tak terkecuali para pejabat dan ulamanya mengadakan shalat istisqa’… Namun, do’a-do’a yang mereka terpanjat, belum memikatNya…

Hingga dipenghujung malam, Muhammad Bin Al Munkadir namanya, bergegas menuju masjid Nabawi untuk mendirikan shalat malam. Digelarlah sajadahnya dan didirikanlah rakaat demi rakaat shalat malamnya. Setelah selesai, sambil menunggu datangnya waktu shubuh, Ibnu Al Munkadir bersandar di dinding masjid yang tidak jauh dari ia menggelar sajadahnya… Saat bersandar, sorot mata Al Munkadir tertuju kepada lelaki yang sedang membentangkan kain di lantai masjid. Mungkin lelaki tersebut merasa bahwa tidak ada orang lain selain dirinya… Kemudian ia khusyu’ sambil menengadahkan tangannya, “Duhai Tuhanku… Penduduk Negeri ini telah bermunajat, memohon hujan kepadaMu… Namun, Engkau belum mengkaruniakan kepada mereka… Sungguh aku memohon padaMu, curahkanlah itu kepada mereka…”

Ibnu Al Munkadir yang melihat dan mendengarnya kemudian mencibirnya, “Memangnya siapa dia, orang-orang seantero Madinah telah keluar dan meminta, namun belum kunjung diberikanNya…”

Belum sempat tengadahan tangannya diturunkan, ternyata hujan turun… Sedang Ibnu Al munkadir seperti termakan sendiri oleh cibirannya…

Dan bersyukurlah pemuda itu…

Ketika adzan shubuh telah berkumandang, lelaki tersebut bergegas mengisi shof shalat, seperti seseorang yang baru datang… Melihat gelagat lelaki tukang sepatu tersebut, Ibnu Al Munkadir menjadi sangat penasaran, kemudian ia memutuskan untk mengikutinya... Namun karena langkah kaki lelaki itu cepat, Ibnu Al Munkadir kehilangan jejaknya…

Keesokan harinya, masih sama… Namun, Ibnu Al Munkadir tidak akan melewatinya dan ia harus betul betul tau siapa lelaki tersebut sebenarnya… “Oh ternyata disini rumahnya…” Pikirnya.

Ibnu Al Munkadir tidak langsung berkunjung, namun ia baru berkunjung setelah melaksanakan shalat dhuha… Setibanya,  ibnu Almunkadir langsung disambut sangat hangat oleh lelaki tersebut, “Wahai Abdullah, (sapanya..) ada yang bisa saya bantu? Apakah anda butuh alas kaki? Tanya lelaki tersebut… “Bukankah engkau yang bersamaku kemarin malam? Tanya balik Ibnu Al Munkadir… “Apa urusanmu dengan itu semua?” Jawab lelaki tersebut dengan penuh emosi…

Keesokan malamnya, malam ketiga setelah peristiwa tersebut terjadi, Ibnu Al Munkadir dengan penuh harap akan bisa menemuinya lagi…Namun malam sudah bertambah larut, Ibnu Al Munkadir belum kunjung melihatnya... “Innalillah… Apa yang sudah aku lakukan kepadanya” pikirnya dengan merasa sangat bersalah… Dan setelah shalat shubuh, ia memutuskan untuk menemuinya… Namun setalah ia sampai di rumah lelaki tersebut, ternyata rumah yang dihuninya kosong tak berpenghuni… Kemudian ada seseorang yang menghampiri Ibnu Al Munkadir, “Wahai Abu Abdillah, apa yang terjadi antara engkau dengan dia? Ketika kemarin engkau selesai menemuinya, ia bergegas mengeluarkan semua barang-barangnya dan entah pergi kemana..” Kata orang itu… Mendengar penjelasannya, bertambah bersalahlah seorang Ibnu Al Munkadir, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya diseluruh penjuru kota Madinah… Namun, pencarian yang dilakukan oleh Ibnu Al Munkadir tidak membuahkan hasil…

Begitulah, kisah seorang lelaki yang tidak diketahui identitasnya oleh penduduk bumi, namun sangat dikenal oleh penduduk langit… Lelaki yang dikenal sebagai tukang sepatu berkulit gelap di Bumi nmun sangat dirindukan oleh pendudukl langit….

Kisah yang sangat banyak mengandung bulir-bulir pelajaran, jika diambil satu bulir akan terkandung satu pesan, bahwa tidak perlulah penilaian manusia… Yang terpenting apa kata Allah Subhanahu Wa Ta’ala…


Dikutip dari buku "Jejak-jejak Perindu Surga" Karangan Muhtadin Akbar

Semoga bermanfaat:)

Komentar