Dari Pejuang Cinta untuk Para Pejuang Cinta
Jika kamu bulan, aku bintangnya...
Jika kamu bunga, aku kumbangnya..
Dua bait dari orang yang mencinta untuk orang yang dicinta. Lantas apa makna cinta sesungguhnya? Apa dengan mengutarakan dua bait tadi sudah dikatakan cinta? Atau masih harus dengan pembuktian pembuktian nyata?
***
Cinta.. Sepertinya hidup akan hampa tanpa cinta.. Karena hidup harus menggunakan satu kata, cinta.. Tak akan ada benci karena ada cinta, puncak dari bencipun akhirnya cinta... Hal positif dilakukan sebab adanya cinta.. Rasa simpati pun datang sebab rasa cinta..
Kata orang jawa, ngulon ngetan ngalor ngidul yo buntut, jenenge ae wes cinta..
****
Cinta.. "Sudah jangan didefinisikan nanti kamu juga merasakan."Kata Rumi..
Dalam ilmu psikologi sendiri, menurut Abraham Maslow bahwa cinta merupakan proses aktualisasi diri yang mana dapat membuat orang melahirkan beragam tindakan tindakan yang kreatif dan produktif. Dengan adanya cinta, maka seseorang akan mendapatkan kebahagiaan jika mampu membahagiakan orang lain yang dicintainya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa cinta memang bisa membuat orang yang merasakannya menjadi pribadi yang bisa merubah kehidupannya dengan drastis, seperti menyukai apapun yang disukai orang yang dicintainya, melakukan apapun demi orang yang dicintainya, dan mengusahakan dengan keras untuk bisa memilikinya.
***
Cinta kepada Sang Maha Cinta..
Seorang ikon cinta, yakni perempuan suci dengan rasa cintanya kepada Sang Ilahi Rabbi, Rabiah Adawiyah mengutarakan bahwa cinta yang sebenarnya adalah cinta kepada Sang Pencipta, sedangkan rasa cinta dengan selainnya adalah dusta. Cinta menurutnya bukanlah sebuah tujuan, tapi cinta adalah jalan untuk sampai pada tujuan..
"Illahi.. Jika aku menyembahMu, karena takut pada nerakaMu, maka bakarlah aku di neraka dengan api neraka itu. Dan jika aku menyembahmu karena mengharap surgaMu, tutup saja pintunya. Tetapi jika aku menyembahMu karena cinta, maka bukalah tirai wajahMu hingga aku bisa memandanginya." begitulah isi dari penggalan puisi cinta Rabiah Adawiyah.
Selain itu, ada banyak kisah kehidupan Rabiah Adawiyah, tentang pembuktian cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, salah satunya terdapat pada penggalan kisahnya dengan Sufyan Tsauri..
Ketika itu Rabiah sedang sakit.. Datanglah Sufyan dengan berkata, "Bukannya kamu adalah orang yang paling dekat dengan Allah, maka mintalah kesembuhan dariNya."
"Mengapa aku minta kesembuhan, jika sakit ini adalah pemberian dari Sang Kekasih? Bukankah sebaiknya, kita menerima pemberian dari Sang Kekasih dengan sepenuh hati?" Ungkap Rabiah Adawiyah kepada Sufyan Tsauri..
Begitulah bagaimana Sang Ibu para Sufi ini mengungkapkan dan membuktikan perasaan cinta kepadaNya..
***
Cinta kepada SelainNya juga Mengantarkan Kita kepada CintaNya..
Karena rasa cinta merupakan fitrah manusia, maka semua orang pasti merasakannya bukan hanya kepada istri, anak, keluarga, tapi juga kepada semua orang. Namun tetap, cinta bukan merupakan tujuan, cinta hanyalah jalan untuk bisa mengantarkan sampai kepada tujuan yakni Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan selalu bertaqwa kepadaNya dan mencintai sesamanya dengan rasa tanggung jawab yang tinggi tapi bukan dengan rasa memiliki...
Kisah dari seorang Sufi Sumnun, yang mulai lalai kepadaNya sebab rasa cinta dan rasa memiliki terhadap anaknya.. Memberikan pelajaran, bahwa apapun yang kita punya, akan segera kembali kepada Sang Pemilik Sesungguhnya..
Lantas, bagaimana menyikapi perasaan cinta untuk orang yang belum dititipkanNya kepada kita?
Rasa cinta kepada orang yang belum halal untuk kita, merupakan perasaan yang memang harus betul-betul dijaga, karena setan sangat mudah menghiasi diri dari apa-apa yang ada pada kehidupan pecinta. Tidak perlu mengungkapkan rasa cinta dengan gombalan, jika akhirnya hanya mengajak untuk pacaran dengan tanpa memberi kepastian.. Tidak perlu bergandengan tangan, jika hanya melampiaskan nafsu, yang ujung-ujungnya tidak punya keputusan untuk menyatu.. Tidak perlu mengirim pesan, menjawab pesan, yang ujung-ujungnya hanya akan membuat sakit sebab palsunya harapan..
***
Jaga rasa cintamu dan cintanya, dengan cara melupakan perasaan jika memang belum ada niatan.. Terus perbaiki diri, jika memang bukan dia yang ditakdir, paling tidak diri sudah mulai mengerti, dewasa, dan mandiri...
Cukup do'a sebagai penguat dan ijabah sebagai hadiah bagi hamba yang tidak lupa dengan kekuatan cinta dari Sang Maha Cinta, Allah Subhanahu Wa Ta'ala..
Komentar
Posting Komentar